Keterkaitan peristiwa yang tak kunjung henti meskipun selalu saja peristiwa ini bedampak miris dengan jatuhnya korban.
Ospek sebuah kata yang terdengar tidak asing di telinga kita, beliau selalu ada disaat kita memasuki sebuah wadah pendidikan atau keorganisasian.
Ospek atau peloncoan sebuah makna yang diberikan agar dapat dipahami yang konon untuk mencapai sebuah keteraturan.
Entah lah, entah dari mana asal kata ini, yang jelas hari ini saya begitu muak dengan hal yang satu ini. kemuakanku juga dipicu kesedihan melihat seorang ibu menangis di pemakaman anaknya karena perbuatan hal yang satu ini.
Tragis , itu yang terlintas di kesedihan hati saya karena hal yang tidak semestinya, bodoh ada dalam dunia pendidikan bahkan dunia kita saat ini. Serius nih bro... Ada apa dengan Ospek? Ngomong-ngomong kata ospek saya jadi teringat sejarah zaman mesir kuno. yang memiliki gaya dan konsep yang serupa. yaitu keteraturan berawal dari kekacauan (chaos).
Pasti pernah donk bro.. kalian menonton film tentang mesir kuno? (jangan pikir peradaban dan pemikirannya kuno)
Sedikit cerita:
pada waktu itu ada seorang pemimpin yang tidak adil bernama firaun, beliau memiliki kekuasaan yang begitu kuat dan memiliki pesuruh dan pasukan yang setia. Pokonya udah yang paling beken lah jauh lebih beken dari pada Ariel onah band zaman sekarang. tragisnya firaun menyalahgunakan kekuasaannya itu.
Yup kita bisa melihat disana orang-orang di pekerjakan paksa secara kasar yang bisa kita lihat dalam membuatan bangunan dan piramida. Konon apabila pekerjanya sudah cape dan tak bisa bekerja mereka dicambuk dengan amat-amat kasar agar mau terus bekerja, gak sampai disitu, gak sedikit juga para pekerja yang harus rela mati karena siksaan para tentara firaun.
Hal ini juga mirip dengan masa imperialism... Yang ini kalian pasti udah hatam betul dengan sejarah tanam paksa yang di usung para penjajah di indonesa. Yup kata-kata beken juga Rodi dan Romusa. Para pekerja di paksa bekerja semata-mata tujuan dan konsep yang sama “keteraturan berawal dari kekacauan”
Gila memang .. Gak bisa dibayangkan bagaimana kalo posisi kita di posisi para pekerja tersebut. Pastinya jiwa kita tertekan, fisik kita pun rempong serempong rempongnya. Tapi percaya gak percaya kita pun pernah mengalaminya.
Tidak bisa dipungkiri posisi kita waktu ospek atau hari ini mirip dengan pekerja paksanya firaun dan tanam paksanya para imperalism.
Coba disimak ya bro.. Senior kita menyuruh kita dengan paksakan? Betul kita tidak bisa menolak? Apabila kita menolak kita mendapat hukuman?
Terlintas dipikiran ada pertanyaan seperti ini : tapikan senior di zaman kita ada yang membelas kasihan?
Yup itu pun sama dengan di zaman Firaun, imperalism zaman ini.
Para pekerjanya pasti ada yang punya rasa belas kasihan terhadap pekerjanya tapi mereka memiliki pemimpin yang selalu mereka taati. ketua ospek,kepala sekolah, dekan, ketua, rektor, menteri, presiden dll...
Dalam Ospek jaman sekarang ini kita bisa jadi firaun, pegawai firaun atau jadi korban firaun.(bukan untuk ditiru)
Apakah ada cara lain dalam menciptakan keteraturan? Jawabannya pasti ada bro..
“Kebenaran mustahil musnah karena jawaban tuhan bagi penindasan tak pernah berubah” Shabir banooobhai
“Berharaplah selalu mendapat balasan hanya dari pemilik semua rasa” denons
Bukan kah dengan kita bersikap hormat itu akan lebih baik dan hakiki meskipun tentu tidak selalu sebaliknya kita akan mendapatkan rasa hormat dari manusia lainnya.
Bukankah kita selalu mengharapkan rasa saling menyayangi dan mencintai meskipun tentu tidak selalu sebaliknya kita akan mendapatkan rasa sayang dan cinta kasih dari manusia lainya.
Betul bro dengan menciptakan rasa kasih sayang antar sesama itu jawaban yang manusiawi. Saya inget lagu sunda yang satu inih bro..
ini potongan liriknya.. “ Resep Ngahiji rukun sakabehna, hirup sauyunan tara pahiri-hiri, silih pikanyaah teu inggis bela pati. Kalo pengen download lagunya judulnya Dadali bird ya bro..
Maaf hanya sepotongan saja karena sepotong lirik itu saja yg saya suka.
Ok bro Jawaban nya ada pada diri kita sendiri.. Tolak mentah-mentah penindasan atau kita akan menjadi korban 234kalinya atau mungkin juga anak kita kelak yang akan menjadi korban seperti korban-korban lainnya yang membuat hati seorang seorang ibu menangis karena kehilangan putra putrinya karena tindakan yang bodoh yang mengikuti tradisi Miniatur kebodohan.
Ini adalah kisah mini yang ada di dekat kita bayangkan ditempat jauh disana kiranya hati sang ibu tidak pernah berhenti menangis ketika harus membersih luka-luka dari jasad anaknya.
Bersyukurlah kita di berikan karunia akal buat memilah mana yang baik dan yang buruk.
Jasad kita lemah ruh kita lebih kuat, jasad kita memerlukan makanan sama hal nya ruh kita.
Buat sang ibu yg hatinya sedang menangis.. denons

No comments:
Post a Comment